Penjelasan QS. an Nahl: 36

Penulis berkata:

وقوله

Dan FirmanNya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaaghuut itu’…”

(An Nahl: 36)

Syarah Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh

Kata الطَّاغُوتَ diambil dari kata الطغيان yang berarti melampaui batas.

‘Umar ibnul Khaththaab berkata:

الطَّاغُوتَ الشيطان

Thaaghuut itu adalah Syaithaan[1]

Jabir berkata:

الطاغوت كهان كانت تنزل عليهم الشيطان

Thaaghuut itu adalah para dukun, dimana syaithan turun kepada mereka.

Kedua atsar ini diriwayatkan oleh ibnu Abi Haatim.

Maalik berkata:

الطاغوت كل ما عبد من دون الله

Thaaghuut itu adalah semua yang disembah selain Allaah

Saya (Syaikh ‘Abdurrahmaan) berkata, apa yang disebutkan diatas adalah sebagian dari bentuk-bentuk satuan thaaghuut.

al ‘Allaamah ibnul Qayyim telah mendefinisikannya secara menyeluruh, dimana dia berkata:

الطاغوت كل ما تجاوزبه العبد حده من معبود ، أومطبوع ، أومطاع

“Thaaghuut ialah segla apa saja yang disikapi seorang hamba dengan melampaui batas padanya, baik dalam bentuk sesembahan, atau yang diikuti, atau yang ditaati.”

Thaghuut setiap kaum adalah seorang dimana mereka berhakim kepadanya selain Allaah dan RasulNya, atau mereka menyembahnya selain Allaah, atau mengikutinya tanpa landasan ilmu dari Allaah, atau mereka menaatinya dalam perkara dimana mereka tidak mengetahuinya bahwa ia merupakan ketaatan kepada Allaah. Ini adalah thaaghuut-thaaghuut dunia.

Jika anda merenungkannya, dan merenungkan keadaan-keadaan manusia dengannya, niscaya anda melihat kebanyakan dari mereka telah berpaling dari beribadah kepada Allaah, kepada thaaghuut. Dan dari menaati Rasuulullaah, kepada menaati thaaghuut dan mengikutinya.

Dan makna ayat diatas: Allaah mengabarkan bahwa Dia mengutus seorang Rasul pada sekumpulan manusia dengan membawa kalimat: أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ‘Sembahlah Allaah (saja) dan jauhilah thaaghuut itu!’. Yakni, sembahlah Allaah semata dan tinggalkanlah penyembahan kepada selainNya, sebagaimana firmanNya:

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus

(al Baqarah: 256)

Ini adalah makna Laa ilaaha illaaLLaah, dan ia adalah al Urwah al Wutsqaa.

Imaduddin ibnu Katsiir berkata tentang ayat ini,

“Semua Rasul menyeru untuk beribadah kepada Allaah, dan melarang beribadah kepada selainNya. Allaah terus mengutus Rasul-Rasul kepada manusia dengan membawa misi ini sejak terjadinya syirik pada anak cucu Adam pada kaum Nuh, dimana Nuh diutus kepada mereka. Nuh merupakan Rasul pertama yang diutus oleh Allaah kepada penduduk bumi sampi Dia menutup mereka dengan Nabi Muhammad (shalallaahu ‘alayhi wa sallam) yang dakwahnya mencakup jin dan manusia, di timur dan dibarat. Hal itu sebagaimana firman Allaah:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

(al Anbiyaa’ : 25)

Dan Dia berfirman dalam ayat yang mulia ini:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaaghuut itu’…”

(An Nahl: 36)

Maka bagimana bisa setelah ini, seorang musyrik berkata (sebagaimana diabadikan Allaah dalam firmanNya)

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ

Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia

(an Nahl: 35)

Kehendak syar’iyyah Allaah itu tidak ada pada mereka, karena Allaah telah melarang mereka dari hal itu melalui lisan-lisan para RasulNya. Sedangkan kehendak kauniyah -yang berarti membuat mereka bisa melakukan itu, karena Dia mentaqdirkannya- maaka ini bukan merupakan alasan bagi mereka, karena Allah telah menciptakan neraka dan penghuninya; dari kalangan syaithaan dan orang-orang kaafir; sementara Dia tidak meridhai kekufuran untuk hamba-hambaNya, dan dalam hal itu Dia mempunyai hujjah yang mendalam dan hikmah yang agung. Kemudian Dia telah mengabarkan bahwa Dia telah mengingkari mereka dengan hukuman di dunia, setelah para Rasul memberikan peringatan.

Oleh karena itu Allaah berfirman:

فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ

maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya

(an Nahl: 36)

Demikianlah (penafsiran) Ibnu Katsiir (dalam menafsirkan ayat diatas).

Saya berkata, (bagian kedua) ayat ini menafsirkan pada bagian awal ayatnya, yaitu ayatNya:

فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ

maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya

Maka renungkanlah!

Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para Rasul adalah mengajak umat-umat mereka untuk beribadah kepada Allaah semata, dan melarang beribadah kepada selainNya, dan inilah agama para Nabi dan Rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda, sebagaimana firmanNya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

(al Maa-idah: 48)

Dan bahwa dalam beriman, harus ada amal hati dan amal anggota badan.

[selesai syarah beliau tentang ayat ini]

[Disalin "Blog Syarah Kitab Tauhid", dari kitab "Fathul Majid - Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)", Pustaka Sahifa]

Syarah Syaikh ‘Abdullaah ibn ‘Abdil ‘Aziiz ibn Bazz

Maksudnya, sembahlah Allaah saja, dan jauhilah thaaghuut-thaaghuut. Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allaah, dan dia ridha. Adapun orang yang disembah, tetapi ia tidak ridha, misalnya Rasul dan Nabi, maka (mereka) tidaklah termasuk thaghut, karena mereka tidak memerintahkan orang untuk menyembah diri mereka (demikian pun, mereka tidak ridha, jika disembah)

[selesai syarah beliau tentang ayat ini]

[Disalin "Blog Syarah Kitab Tauhid", dari kitab "Syarah Kitab Tauhid Syaikh Bin Baz", Pustaka ash Shahihah]

Syarah Syaikh Muhammad ibn Shaalih ibnul ‘Utsaimiin

Huruf Lam dalam lafazh وَلَقَدْ sebagai pendahuluan untuk sumpah yang tersirat. Dan قَدْ untuk memastikan. Atas dasar ini, kalimat dalam ayat ini dikuatkan dengan sumpah yang tersirat, (yaitu dengan) ‘lam’ dan ‘qad’.

FirmanNya: بَعَثْنَا artinya Kami keluarkan dan Kami utus rasul disetiap umat. Yang dimaksudkan umat disini ialah golongan manusia.

Umat dalam al Qur-aan dimaksudkan untuk empat makna:

1. Bermakna golongan, seperti ayat ini.

2. Bermakna iimaam, seperti dalam firmanNya: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (artinya) “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allaah)”

3. Berarti al millah, (yaitu) agama, seperti dalam firmanNya (tentang perkataan orang-orang kaafir) بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ (artinya) Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama (QS. Az Zukhruf: 23)

4. Berarti masa, seperti firmanNya, وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ (artinya) “dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya” (QS. Yuusuf: 45)

Rasul diutus kepada setiap umat semenjak zaman Nuh hingga zaman Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Adapun hikmah diutusnya Rasul adalah:

1. Menegakkan hujjah.

Dimana Allaah berfirman:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.

(QS. an Nisaa’ : 165)

2. Sebagai rahmat

Allaah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

(al Anbiyaa’ : 107)

3. Menjelaskan jalan yang menghantarkan kepada Allaah, karena manusia tidak mengetahui apa hak-hak Allaah secara mendetail kecuali harus melalui para Rasul.

FirmanNya: أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ ada yang berpendapat bahwa lafazh أَنِ (an) bersifat penafsiran, yaitu pendahuluan yang menunjukkan kepada perkataan dengan mengabaikan huruf-hurufnya, seperti dalam firman Allaah: فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera” (al Mu’minuun: 27). Didalam wahyu ini terkandung makna perkataan dan mengabaikan huruf-hurufnya. Kebangkitan mengandung makna wahyu, karena setiap rasul mendapatkan wahyu.

Adapula yang berpendapat bahwa ‘an’ disini bersifat mashdar, berdasarkan makna yang terkandung dari huruf ba’ yaitu بأن اعبدوا . Tapi yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena disini tidak ada makna yang terkandung.

Jadi firman Allaah أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ berarti: Tunduklah kepada Allaah dengan cara melakukan ibaadah. Dibagian terdahulu sudah dipaparkan makna ibadah.

FirmanNya: وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ artinya jauhilah oleh kalian thaaghuut, dengan membuat diri kalian disatu sisi dan membuat thaaghuut disisi lain. Adapun الطَّاغُوتَ diambilkan dari الطغيان yang merupakan sifat musyabbahah (yang menyerupai), yang berarti melampaui batas, sebagaimana firmanNya إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera, (al haaqqaah : 11). Artinya, ketika air tersebut melampaui batas.

Pendapat paling menyeluruh tentang definisi thaaghuut ialah seperti yang disampaikan ibnu Qayyim rahimahullaah, yang artinya: “sesuatu yang membuat hamba melampaui batas, baik berupa sesuatu yang diikuti, sesuatu yang disembah, atau sesuatu yang ditaati.” Yang dimaksudkan adlah orang yang ridha kepada sesuatu itu. Atau dapat juga dikatakan thaaghuut dengan pertimbangan orang yang menyembahnya, mengikutinya, dan orang yang taat kepadanya, karena dia melampaui batas, menempatkannya lebih tinggi dari kedudukan yang dijadikan Allaah baginya, sehingga menyembah yang disembah, mengikuti yang diikuti dan menaati yang ditaati, merupakan tindakan yang melampaui batas.

Adapun yang diikuti adalah para dukun, ahli sihir, dan ulama su’ (jelek; yaitu ulama penyesat umat). Yang disembah seperti berhala. Yang ditaati seperti penguasa yang keluar dari ketaatan kepada Allaah.

Jika manusia menjadikan mereka ini sebagai tuhan yang menghalalkan apa yang diharamkan Allaah; atau yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allaah; maka mereka itu thaaghuut-thaaghuut, dan yang melakukannya adalah orang yang mengikuti thaaghuut.

Allaah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab?

(an Nisaa’: 51)

Tidak dikatakan: ‘sesungguhnya mereka para thaaghuut’

Letak pembuktian ayat ini atas tauhid, bahwa berhala termasuk thaghut yang disembah selain Allaah.

Tauhid tidak dapatmenjadi sempurna kecuali dengan dua rukun: penetapan dan penafian. Penafian semata sama dengan pengguguran semata. Penetapan semata juga tidak dapat mencegah persekutuan. Sebagai misal, Zayd sedang berdiri. Hal ini menunjukkan ketetapan berddiri yang dilakukan Zaid, tapi bukan berarti hal itu menunjukkan kesendiriannya dalam melakukan tindakan itu. Jika dikatakan, “TIdak seorangpun ikut berdiri”, hal ini menunjukkan penafian semata. Berarti tidak ada yang berdiri kecuali Zayd. Ini namanya penunggalan berdiri bagi Zaid, karena didalamnya mencakup penetapan dan penafian.

Perkataan penulis: “ayat”, artinya hingga akhir ayat (yang disebutkan dalam ayat kedua ini), yang dibaca secara manshub entah karena kedudukannya sebagai maf’ul bihi dari fi’il yang dihilangkan, dengan gambaran jelasnya: sempurnakan ayat ini, atau boleh jadi ia manshub karena melepaskan harakat kasrah, dengan gambaran hingga akhir ayat.

Letak pembuktian dengan menggunakan ayat ini untuk kita tauhid, karena ayat ini merupakan kesepakatan para Rasul untuk berdakwah kepada tauhid, bahwa mereka diutus untuk itu, yang didasarkan kepada firmanNya:

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sembahlah Allaah, dan jauhilah Thaaghuut

[Selesai sampai disini syarah syaikh ibnul 'utsaimiin]

[Disalin "Blog Syarah Kitab Tauhid", dari kitab "Syarah Kitab Tauhid", Darul Falah]

– 18 Ramadhan, 1434 H –


Catatan Kaki:

[1] Disebutkan oleh Ibnu Katsiir dari Hassaan bin Qa’id al Ubaysiy dari ‘Umar, beliau berkata:

إن الجبت السحر ، والطاغوت الشيطان ، و إن الشجاعة والجبن تكون غرائز في الرجل

Sesungguhnya Jibt adalah sihir, dan thaaghuut adalah syaithaan; dan sesungguhnya keberanian dan sifat pengecut merupakan tabiat pada manusia…

Makna ucapannya bahwa Thaghut adalah syaithan adalah sangat kuat, karena ia mencakup semua keburukan yang dipegang oleh orang jahiliyyah dalam bentuk menyembah berhala, berhakim padanya, serta meminta pertolongan padanya. Ucapan ‘Umar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jariir.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s